Search This Blog

Showing posts with label Cap go me. Show all posts
Showing posts with label Cap go me. Show all posts

Tuesday, 7 February 2012

PERAYAAN CAP GO ME DI PONTIANAK 06 FEBRUARI2012

  BERANDA     PROPERTI      SOSIAL       SERBA SERBI     KESEHATAN      
www.cmbersama.blogspot.com             
                                                                               Selasa,07 Februari 2012
Perayaaan cap go me di Pontianak 06 Februari 2012


Arakan naga cap go me di jalan Gajah Mada Pontianak 

Lautan manusia tumpah ruah memadati jalan Gajah Mada 

Tarian barongsai ikut memeriahkan  cap go me imlek 2563

Koko- meimei terpilih Pontianak memberi salam kepada penonton yang memadati tepi jalan Gajah mada,Pontianak.

PONTIANAK-cmbers .Perayaaan cap go me di Pontianak 06 Februari 2012 tak dinyana
lebih meriah dari tahun kemarin.

 Lautan manusia memadati jalan Gajahmada dari pagi
hingga sore menyaksikan arakan naga,barongsai,budaya multi etnis,dan koko mei mei Pontianak .
Dan kemudian di lanjutkan dengan  atraksi Naga dan pesta kembang api di alun-alun kapuas hingga pukul
22.00 waktu setempat.
Cuma saja sangat disayangkan di tidak perbolehkannya oleh Pemerintah untuk menggelar pawai
tatung yang katanya terkesan sadisme.
Event tahunan cap go me merupakan aset budaya berharga yang harus di wariskan turun-temurun.
Selain banyak memberi penghasilan kejutan untuk pedagang musiman,di pastikan akan selalu menjadi daya tarik bagi turis manca negara dan menjadi salah satu daya dongkrak bagi pertumbuhan perekonomian
kota Pontianak.
Dan di harapkan Tahun depan perayaan cap go me dapat lebih meriah ,melalui  program-program kerja
sama multi etnis,pemerintah setempat yang di kemas dalam sebuah event yang lebih spektakuler.

(www.cmbersama.blogspot.com/cins)

Thursday, 19 January 2012

Hotel Sudah Penuh hingga Capgome

  BERANDA     PROPERTI      SOSIAL       SERBA SERBI     KESEHATAN      

Hotel Sudah Penuh hingga Capgome

www.cmbersama.blogspot.com                                             Rabu,18 Januari 2012

Warga Singkawang Panen Rezeki

Hiasan Capgome Singkawang
MORDIADI
Hiasan Capgome di Singkawang
SINGKAWANG – Ditengarai kehabisan kamar hotel, Walikota Singkawang mengimbau warga untuk menjadikan rumahnya sebagai home stay untuk wisatawan pada perayaan Capgome 2563 nanti.
“Silakan hubungi panitia jika berkenan menawarkan home stay di rumahnya yang layak huni bagi wisatawan,” kata Dr KRA Hasan Karman Notohadiningrat kepada Equator, kemarin.
Dengan begitu, lanjutnya, Capgome memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Sebab, semua kamar hotel dan penginapan sudah fully booked untuk beberapa hari sebelum dan sesudah 6 Februari 2012. Maka, panitia pun melombakan hiasan rumah agar lebih menarik.
Tak hanya home stay pernak-pernik, suvenir, hotel, restoran, dan kafe, makanan tradisional dan khas Singkawang bisa dijajakan dan dipromosikan. Transaksi ekonomi jelas meningkat bagi warga kota.
“Saya tidak bisa memprediksi dengan angka. Yang jelas masyarakat akan menikmati panen raya jasa dan barang. Mulai dari maskapai penerbangan, penyewaan kendaraan, sampai juru parkir akan merasakan dampak positifnya,” papar Hasan.
Melihat peluang itu, Hasan mengharapkan warga Singkawang memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. “Restoran dan warung kopi jangan sampai kehabisan makanan dan minuman. Jangan cepat tutup karena banyak pengunjung yang memburu makanan dan minuman. Mohon jangan menaikkan harga berlebihan yang akan membuat kapok pengunjung,” ingatnya.
Bagi 186.306 warga Kota Singkawang yang sekitar 60% diperkirakan warga Tionghoa, diharapkan ramah kepada tamu, memberikan informasi jelas dan membantu kesulitan mereka berkomunikasi dengan warga.
Hasan juga memanfaatkan peluang ini untuk mempererat tali persaudaraannya dengan warga Singkawang. “Pada saat Imlek, saya akan open house untuk warga di rumah dinas pada hari pertama dan kedua. Silakan masyarakat datang,” undangnya.

Trofi dan uang tunai

Lomba hias rumah warga Kota Singkawang dengan ornamen Imlek dan Capgome mendapatkan keuntungan ganda. Selain rumahnya menjadi indah juga berpeluang mendapatkan trofi, sertifikat, dan uang pembinaan.
Untuk penilaiannya, panitia akan menurunkan tim untuk mendokumentasikan rumah, toko, dan tempat ibadah yang telah dihias. Selanjutnya akan dinilai berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Kendati sudah banyak toko serta tempat ibadah bersolek, masih banyak yang belum sempat memoles kediamannya. Alang, pemilik toko Kopi Nikmat ini masih menimang-nimang dulu.
“Kalau pernak-pernik tahun lalu masih bisa dipakai, kita tidak akan beli untuk perayaan tahun ini. Tapi jika sudah rusak, ya tentu saya beli lagi,” katanya.
Robby sudah mulai menghiasi rumahnya Minggu ini. “Kalau untuk barang yang harus ada seperti Naga Air, lampion, dan nanas harus ada di rumah. Jadi nanti akan beli,” kata Humas Perayaan Cap Go Meh 2012 Kota Singkawang ini.

Untung duluan

Menyambut Naga Air, para pedagang semringah. Belum lagi tiba waktunya mereka sudah meraup keuntungan dan diproyeksikan akan jauh meningkatkan dari sebelumnya.
Afen, pemilik Toko Meria di Jalan Sejahtera, mengaku sudah menjual pernak-pernik Imlek dan Capgome sejak awal Januari. Sejak saat itu sudah banyak pembeli yang berdatangan. “Kian hari, para pembeli kian ramai membeli pernak-pernik Imlek dan Capgome,” kata Afen.
Dia mengakui, semua pernak-pernik yang dibutuhkan untuk perayaan Imlek tersedia di tokonya, seperti Naga Air, stiker, lampion, barongsai, nanas, angpau, dan lainnya. Harganya pun bervariasi, mulai dari ribuan hingga ratusan ribu rupiah.
“Lampion misalnya, dari harga Rp 20 ribu hingga Rp 200 ribuan. Angpau, mulai dari seribuan hingga Rp 50 ribu. Semuanya tergantung dari bentuk dan bahan yang diinginkan,” jelas Afen.
Puncak warga membeli, prediksi Afen, seperti tahun-tahun yang lalu ketika mendekati perayaan akan mulai ramai. “Tahun ini yang banyak diburu adalah lampion, nanas serta naga. Karena tahun ini adalah tahun naga air,” katanya.
Afen mendatangkan barang-barang dari Tiongkok dan Malaysia juga Jakarta. Tidak hanya saat perayaan Imlek dan Capgome. Afen yang juga menjual keperluan Idulfitri dan Natal, sudah belasan tahun silam. (dik)
sumber artikel:(*http://www.equator)

Naga Terpanjang, Ratusan Tatung, dan Tembok Raksasa

  BERANDA     PROPERTI      SOSIAL       SERBA SERBI     KESEHATAN      

www.cmbersama.blogspot.com                           Rabu,18 Januari 2012

Capgome 2563 Spektakuler di Singkawang

Naga Terpanjang, Ratusan Tatung, dan Tembok Raksasa

lampion capgome singkawang
MORDIADI
SINGKAWANG – Sebentar lagi semua orang mengucapkan Gong Xi Fa Cai. Tahun Baru Imlek 2563 yang jatuh 23 Januari nanti oleh warga Singkawang bakal menjadi spektakuler dengan Sui Liong alias Naga Air sepanjang 138 meter.
“Naga terpanjang itu merupakan salah satu di antara beberapa kejutan yang kita siapkan untuk perayaan Capgome. Ini untuk membedakan lampion raksasa tahun lalu. Tahun ini memang tema perayaan naga, karena memang tahun Naga Air,” tutur Bong Cin Nen, Sekretaris Panitia Perayaan Imlek dan Capgome kepada Equator.
Imlek 2563 di bawah naungan Naga Air diyakini warga Tionghoa membawa hoki jadi otomatis tema festival di Singkawang bernuansa naga. “Mungkin akan menjadi naga terpanjang yang pernah dibuat di Kalbar atau Indonesia. Soal masuk rekor MURI kita belum tahu,” ujar Bong Cin Nen.
Sejumlah seniman tampak sibuk memoles naga terpanjang itu di sekitar Stadion Kridasana. Tangan-tangan piawai yang membuatnya bukan hanya warga Tionghoa, tetapi banyak juga orang Melayu dan lainnya.
Biaya membuat naga panjang bukan kepalang ini tidak murah. “Keterbatasan dana dapat ditutupi dengan kedermawanan sponsor. Kita ada sponsor yang membiayai pembuatannya,” kata Cin Nen merahasiakan.
Singkawang yang memang kota wisata sepertinya tak mau tanggung-tanggung. Selain naga terpanjang, nuansa Imlek dan Capgome di Kota Singkawang menampilkan miniatur Tembok Raksasa (Great Wall). Tembok di negeri Tiongkok ini akan dapat disaksikan di Stadion Kridasana. Miniatur Tembok Raksasa ini mampu menampung sekitar 300 orang.
Dibangun mengitari Taman Mei Hwa, panjangnya 220 meter, tinggi 8 meter, dan lebar 4 meter. “Jadi pengunjung dapat menaiki miniatur tembok raksasa itu, tetapi harus antre,” kata Bong Cin Nen.
Nantinya, ketika perayaan dimulai, pengunjung yang akan naik ke miniatur itu diharuskan membeli tiket dengan harga yang terjangkau. “Penetapan tiket ini agar antreannya tertib, karena miniatur itu diproyeksikan hanya mampu menampung sekitar 300 orang,” jelasnya.
Bila tahun lalu Lampion Raksasa Singkawang tercatat dalam MURI, kali ini bukan berbentuk raksasa tetapi berbentuk gedung yang dindingnya terdiri dari lampion. Rumah lampion ini sudah tegak di satu sisi dekat tiang gawang. Beberapa pekerja tampak sibuk menyiapkan bagian dalamnya.
Bagian dalam Rumah Lampion itu akan digunakan sebagai tempat semacam museum. Jadi, para pengunjung dapat melihat benda-benda antik peninggalan nenek moyang warga Tionghoa di Singkawang.
Bong Cin Nen mengakui barang-barang antik tersebut cukup sulit diperoleh karena tersimpan di rumah-rumah warga. “Kalau ada warga yang menyimpan kita pinjam dulu untuk dipajang, agar pengunjung mengetahui barang-barang apa saja yang digunakan nenek moyang kita dulu,” katanya.
Melengkapi kolosalnya Capgome, tentu harus ada nilai ekonominya. Disiapkan 60 stand pameran berisikan produk Usaha Kecil Menengah (UKM), sponsor, dan lainnya.
Dengan adanya stand pameran ini, para wisatawan baik domestik maupun mancanegara tidak hanya berkunjung di Festival Imlek dan Cap Go Meh Singkawang. Tetapi juga dapat membawa oleh-oleh sepulangnya dari Kota Wisata ini.

Ratusan tatung

Barangkali, di seantero jagat hanya di Singkawang ritual-ritual yang tidak boleh hilang dalam Imlek dan Capgome. Tatung yang sudah sejak puluhan tahun silam dikenal warga Kalbar akan tampil di depan publik. Jangan heran, tatung ini merupakan pembauran budaya lokal dan daratan Tiongkok yang tak ada duanya di dunia.
Lima hari sejak dibukanya pendaftaran tatung, sudah ratusan dipastikan tampil dalam perayaan Capgome. “Pendaftaran tatung dibuka sejak 9 Januari lalu hingga 19 Januari. Kemudian pendaftaran akan dibuka kembali 28 Januari hingga 31 Januari,” kata Bong Cin Nen.
Pendaftaran tentu terus bertambah karena tidak ada pembatasan. Berapa pun yang mendaftar akan diterima, tentunya dengan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi demi kelancaran perayaan.
Bagi tatung anak-anak diharuskan menyerahkan surat keterangan telah mendapat izin dari orang tuanya. Selain itu, tatung yang mendaftar harus datang sendiri ke sekretariat panitia perayaan, tidak boleh diwakilkan. “Sebelumnya sudah pernah dilombakan, tetapi karena kritikan dari senior akhirnya ditiadakan lomba tatung,” jelasnya.
Para senior menolak tatung diperlombakan, karena tradisi tersebut merupakan ritual bukan pagelaran seni. “Tetapi untuk yang lain ada diperlombakan seperti menghias rumah, pawai lampion dan lainnya,” ujar Bong Cin Nen.
Tatung memang menjadi keharusan dalam perayaan Capgome. Dalam bahasa Khek atau Hakka tatung bermakna orang yang dirasuki roh dewa atau leluhur. Tubuh dijadikan alat komunikasi atau perantara roh leluhur atau dewa. Pemanggilannya menggunakan mantra dan mudra tertentu, roh dewa dipanggil ke altar kemudian akan memasuki raga tatung.

Hari besar resmi

Walikota Singkawang Dr KRA Hasan Karman Notohadiningrat menilai Tahun Baru Imlek merupakan hari besar warga Tionghoa. “Maka secara tradisi, warga Tionghoa akan merayakannya dengan kumpul keluarga serta makan besar bersama,” terangnya.
Semua anggota keluarga umumnya akan berkumpul. Bukan hanya yang berdomisili di Singkawang atau Kalbar. Tetapi juga yang pergi merantau ke negeri orang. “Momen ini digunakan untuk reuni keluarga sambil bersyukur kepada Tuhan pada malam Tahun Baru Imlek yang jatuh pada 23 Januari 2012 ini,” jelas Hasan.
Selanjutnya, pada hari pertama Imlek, 23 Januari 2012, anggota keluarga yang muda akan sowan ke tempat orang-orang yang dituakan. Hal ini sebagai salah satu bentuk tanda hormat kepada yang lebih tua. “Biasanya orang tua akan memberi angpau (amplop merah) yang berisi rezeki dengan harapan penerimanya murah rezeki dan enteng jodoh bagi yang belum menikah,” ungkap Hasan.
Reuni keluarga itu saja dapat dipastikan sudah banyak warga yang berdatangan ke Kota Singkawang. Karena cukup banyak warga Singkawang yang merantau untuk mengadu nasib, bukan hanya di Indonesia tetapi juga di luar negeri.
Belum lagi wisatawan yang akan berkunjung ke Singkawang pada Imlek dan Capgome tahun ini. Pasalnya, kata Hasan, Hari Raya Imlek telah ditetapkan sebagai hari besar oleh negara. “Jadi resmi diakui sebagai hari besar,” katanya.
Pengakuan sebagai hari besar itu saja sudah dapat dipastikan akan menjadi daya tarik bagi para wisatawan untuk berbondong-bondong ke Singkawang. Apalagi Imlek dan Capgome merupakan event budaya yang punya nilai jual pariwisata. “Makanya kita kemas dalam bentuk festival untuk menarik wisatawan,” papar Hasan.
Dikemas dalam bentuk Festival Imlek dan Capgome itu diserahkan kepada panitia perayaan selaku penanggung jawab. Selama dua minggu, panitia penyelenggara itu sudah menyiapkan berbagai atraksi budaya. “Puncaknya pada hari ke-15 bulan pertama Imlek sebagai penutup,” ingat Hasan.
Imlek dan Capgome juga telah menjadi agenda wisata yang ditetapkan Pemprov Kalbar. Ditambah lagi telah mendapat pengakuan dari pemerintah pusat (pempus) melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparek).
Dengan berbagai persiapan Festival Imlek dan Capgome, tentu dapat dibayangkan berapa dana yang dibutuhkan. Sangat tidak mungkin kalau hanya mengandalkan APBD Singkawang yang tidak seberapa.
Digandenglah sponsor dan donator untuk membiayai penyelenggaraannya. “Sponsor telah mengalokasikan dana untuk promosinya. Mereka sangat profesional, jadi kita bersinergi demi kepentingan daerah,” tuturnya.
Beberapa stasiun televisi juga telah menyatakan keinginannya untuk menyiarkan Festival Imlek dan Capgome Singkawang. “Capgome Singkawang telah sangat dikenal di luar. Jadi kita tidak kesulitan untuk mempromosikannya,” kata Hasan.
Kendati sangat banyak dikenal, tentunya masih membutuhkan penyebaran undangan untuk orang-orang tertentu. Secara resmi Pemkot Singkawang hanya mengundang Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Gubernur Kalbar, serta beberapa undangan VVIP lainnya. “Hal ini karena keterbatasan kita dalam menyediakan akomodasi,” aku Hasan.